Oleh Maulen Munthe/Khairuddin Sinambela
REAKSI JAKARTA – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 33 Jakarta di Kecamatan Cengkareng menggelar kegiatan workshop jurnalistik degan mengusung tema suarakan kebenaran. Kegiatan tersebut selama dua hari ini Selasa (3/11). Hal ini guna meningkatnkan literasi media di kalangan pelajar, sekaligus membekali generasi muda dengan keterampilan jurnalistik, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman mengenai etika dalam menyampaikan informasi.
Workshop tersebut menghadirkan dua pemateri dari media terbitan oneline didampingi beberapa orang redaktur dari media oneline masing, materi diberikan meliputi prinsip dasar jurnalistik, teknik menggali informasi, verifikasi fakta, konfirmasi kepada narasumber, hingga penyajian berita secara akurat dan bertanggung jawab.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kode etik jurnalistik (KEJ) dan pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA). sementara pada hari kedua, materi difokuskan pada pemahaman dan penerapan unsur 5W+1H dalam penulisan berita serta teknik menulis feature.
Zahara Sitio, salah satu redaktur media oneline menegaskan bahwa kode etik Jurnalistik merupakan pedoman utama yang wajib dipegang setiap wartawan dalam menjalankan profesinya, keberanian mengungkap fakta harus berjalan seiring dengan proses verifikasi, keberimbangan informasi, serta penerapan asas praduga tak bersalah, terutama dalam pemberitaan yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana.
Lanjut Zahara Sitio menyampaikan, Jurnalis harus berani mengungkap fakta dan menyampaikan informasi yang menjadi kepentingan publik. Namun, keberanian tersebut harus dibarengi tanggung jawab, verifikasi, dan penggunaan bahasa yang tepat. Jangan sampai seseorang yang masih berstatus terduga sudah dihakimi melalui pemberitaan sebelum ada keputusan pengadilan,” ujarnya, Senin siang 2/11)
Mubinoto Amy, salah satu pimpinan redaksi media online, menekankan pentingnya penerapan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) dalam setiap produk jurnalistik yang melibatkan anak, menurutnya, jurnalis wajib mengutamakan perlindungan identitas, privasi, serta kepentingan terbaik bagi anak. Pemberitaan tidak boleh mengabaikan hak-hak anak hanya demi mengejar nilai berita atau menarik perhatian publik.
”Pemberitaan yang melibatkan anak, jurnalis tidak boleh hanya berorientasi pada menariknya sebuah berita, ada hak dan masa depan anak yang harus dilindungi. Karena itu, identitas anak, privasi, serta hal-hal yang dapat mengarah pada pengungkapan jati dirinya harus benar-benar diperhatikan,” ungkap
Selain pemaparan materi, workshop juga berlangsung interaktif melalui sesi diskusi, para siswa diberikan kesempatan menyampaikan pandangan sekaligus mengajukan pertanyaan mengenai berbagai persoalan dalam dunia jurnalistik.
Zievara Ruci, salah satu peserta, mengangkat persoalan independensi pers dan tantangan yang dihadapi wartawan ketika menjalankan tugas peliputan, khususnya saat meliput aksi demonstrasi, independensi merupakan prinsip penting agar pemberitaan tidak dipengaruhi kepentingan maupun tekanan dari pihak tertentu,” tuturnya.
Lanjut Zievara Ruci, menyoroti masih adanya jurnalis yang mengalami tekanan ketika menyampaikan informasi kepada masyarakat,saya melihat masih ada jurnalis yang mengalami tekanan ketika menyampaikan informasi, termasuk saat meliput demonstrasi. Padahal, mereka sedang menjalankan tugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat, menurut saya, keselamatan jurnalis harus menjadi perhatian karena mereka memiliki hak untuk bekerja dan menyampaikan fakta,” tegasnya.
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran jurnalistik tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan menulis dan menyusun berita. Pemahaman mengenai independensi pers, kebebasan menyampaikan informasi, serta perlindungan keselamatan wartawan juga menjadi aspek penting yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Selain siswa SMAN 33 Jakarta, workshop ini diikuti juga perwakilan pelajar dari SMA IP Yakin, SMA Cahaya Fadilah, dan SMA Cengkareng 1, degan. melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan mampu mengembangkan keterampilan jurnalistik, meningkatkan daya kritis, serta lebih bijak dalam menyaring dan menyebarluaskan informasi di tengah derasnya arus informasi digital.
Lebih dari sekadar mencetak calon jurnalis muda, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan generasi yang berani menyuarakan kebenaran, menjunjung tinggi etika, menjaga independensi, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan media informasi,” tutupnya. (*)
![]()











